Buat Engkau kekasihku yang sangat aku cintai
Engkaulah yang memberiku kehidupan
Engkaulah yang memberiku fitrah untuk mencintai dan menyayangi
Engkaulah yang telah menciptakan laki-laki dan perempuan
Engkaulah yang telah memberiku anugerah ini…
Engkaulah pula yang memegang takdir hidupku
Ya Kekasihku….
Dengan anugerahmu ini, Kau pertemukan aku dengan dia
Ya kekasihku….
Dengan anugerahmu ini, Kau buat aku mencintainya
Ya Kekasihku….
Dengan anugrahmu ini, jagalah diriku dan dirinya dari bermaksiat kepada-Mu
Ya Kekasihku….
Dengan anugerahmu ini, persatukanlah kami dalam ikatan yang Engkau ridhoi
Ya Kekasihku…
Dengan anugrahmu ini, biarkan aku mencintainya hanya karena aku sangat cinta kepada-Mu
yizeyiz
Kamis, 21 Februari 2013
Minggu, 29 Juli 2012
Tentang Kerinduan
Demi malam ketika rasa sepi memagut resah bintang pada bulan
Biarkan lelaki ini terus memanggil manggil di kejauhan langit
Menatap kosong penuh peluh dengan hembus nafas tersesak
Dan menggigil dingin tersapu angin bersahutan dalam rinai hujan
Baru beberapa saat rasanya senja berarak tak kian berpamitan
Fajar tak juga membawa embun pada belaian pagi
Dan baru saja kemaren dekapan terasa hangat
Menyentuh pucuk – pucuk asmara
Merengkuhku dalam genggaman cintamu
Semakin hari pun sendu mengikis waktu di perasingan langkah
Merantai tangan dengan duri keindahan mawar yang tak terjamah
Lalu memenjarakan jiwa dalam gelora kerinduan yang bersenandung
Aku lelah mencumbui kerinduan ini, sayank…
Seringnya aku lewatkan lelap mengurai benang harap
Agar engkau lekas kembali saat aku terjaga
Namun ….
Aku hanya punya bekal mimpi semalam darimu
Untuk aku slalu simpan di perjalanan siang hingga petangku
Dalam penantianmu, sayank…
Ingin aku gulir waktu
Agar segera aku mengusap wajahmu; membelaimu
Membiarkanmu bersandar di dadaku
Mengurai resah dan gelisah oleh kusamnya waktu
Berbagi kasih dan cinta yang membelah jiwa kita
Merasai desah nafas dan detak jantungmu
Lalu aku bisikan perlahan di telingamu
Keindahan teratai yang tumbuh di tengah danau jiwa kita
Juga bahagia hari esok yang ingin kita lewati
Tentang cita-cita dan impian
Tentang besarnya cintaku untukmu
Ah kekasih, betapa aku tak bisa jauh darimu…
Biarkan lelaki ini terus memanggil manggil di kejauhan langit
Menatap kosong penuh peluh dengan hembus nafas tersesak
Dan menggigil dingin tersapu angin bersahutan dalam rinai hujan
Baru beberapa saat rasanya senja berarak tak kian berpamitan
Fajar tak juga membawa embun pada belaian pagi
Dan baru saja kemaren dekapan terasa hangat
Menyentuh pucuk – pucuk asmara
Merengkuhku dalam genggaman cintamu
Semakin hari pun sendu mengikis waktu di perasingan langkah
Merantai tangan dengan duri keindahan mawar yang tak terjamah
Lalu memenjarakan jiwa dalam gelora kerinduan yang bersenandung
Aku lelah mencumbui kerinduan ini, sayank…
Seringnya aku lewatkan lelap mengurai benang harap
Agar engkau lekas kembali saat aku terjaga
Namun ….
Aku hanya punya bekal mimpi semalam darimu
Untuk aku slalu simpan di perjalanan siang hingga petangku
Dalam penantianmu, sayank…
Ingin aku gulir waktu
Agar segera aku mengusap wajahmu; membelaimu
Membiarkanmu bersandar di dadaku
Mengurai resah dan gelisah oleh kusamnya waktu
Berbagi kasih dan cinta yang membelah jiwa kita
Merasai desah nafas dan detak jantungmu
Lalu aku bisikan perlahan di telingamu
Keindahan teratai yang tumbuh di tengah danau jiwa kita
Juga bahagia hari esok yang ingin kita lewati
Tentang cita-cita dan impian
Tentang besarnya cintaku untukmu
Ah kekasih, betapa aku tak bisa jauh darimu…
Untuk Yang Abadi Atau Yang Hilang
untuk yang abadi, apakah akan kekal ?
tiada selama hujan itu masih membawa gerimis
embun masih meneteskan di dedaunan rerumputan
dan masih akan membawa karam ;
jiwa telah tenggelam, hanyut tertealan
bila yang hilang adalah yang kekal
tak abadi sekian waktu mengikis
di persembunyian terang maupun gelap
dalam ruang pengap harapan berlabuh
untuk langkah dahulu yang semakin terhapus
antara yang abadi dan yang hilang
singgasanaku di dasar perhentian rintih
rapuh persendian luluh jiwa memecah
tak ada yang akan mmapu, yang bisa
mengurai laraku
untuk yang abadi atau yang hilang
cintamu yang hilang akan abadi untukku, kekasih
tiada selama hujan itu masih membawa gerimis
embun masih meneteskan di dedaunan rerumputan
dan masih akan membawa karam ;
jiwa telah tenggelam, hanyut tertealan
bila yang hilang adalah yang kekal
tak abadi sekian waktu mengikis
di persembunyian terang maupun gelap
dalam ruang pengap harapan berlabuh
untuk langkah dahulu yang semakin terhapus
antara yang abadi dan yang hilang
singgasanaku di dasar perhentian rintih
rapuh persendian luluh jiwa memecah
tak ada yang akan mmapu, yang bisa
mengurai laraku
untuk yang abadi atau yang hilang
cintamu yang hilang akan abadi untukku, kekasih
Kamis, 28 Juni 2012
Tugu muda malam hari
kali in aku berada di krumunan
di gemerlap lampu tepian jalan kota
di depan dua gedung tua, di tengah hiruk pikuk
tegak aku sandarkan penatku di bawah batu prasasti silam
terlalu sunyi bahasa senyapku membaca
sekitar terasa asing ingatku terkenang
disini, dahan cemara mengering seperti ruhku
tempat ini telah tunjukan fakta, bukan paradigma semata
disinilah dulu pernah hati saling bercermin bersama
dan, rayu canda terdengar di sebelah
buatku iri pada masa dan waktu dulu, yang telah berlalu
di tugu muda malam hari
di gemerlap lampu tepian jalan kota
di depan dua gedung tua, di tengah hiruk pikuk
tegak aku sandarkan penatku di bawah batu prasasti silam
terlalu sunyi bahasa senyapku membaca
sekitar terasa asing ingatku terkenang
disini, dahan cemara mengering seperti ruhku
tempat ini telah tunjukan fakta, bukan paradigma semata
disinilah dulu pernah hati saling bercermin bersama
dan, rayu canda terdengar di sebelah
buatku iri pada masa dan waktu dulu, yang telah berlalu
di tugu muda malam hari
Puisi Yang Tumbang
seperti mimpi …
belum sampai waktunya, dan mengigau
parau melengking dari dasar kekosongan, tanpa nada
suara – suara rayuan yang menggoda malam
penuh asmara yang hampa; karena aku hilang
aku terkikis kenangan dan ingatan
tertunduk. sepi dan sendiri
menanti. menanti. menanti ….
sepanjang hiruk pikuk kegundahan
tak juga mereda, tak surut tersapu lengah
masih sisa air ini dalam secangkir cinta;
menyiksa dalam kemabukan
yang lalu inginkan berlalu laju
tinggalkan pergi,hilang titipkan ratapan
sedang angin membawaku bertepi
semakin menepi jiwa yang kalut terenggut
segalanya menahan. menahan. menahan sembilu
dan…
hingga sampai tiba nanti
aku ingin tetap seperti ini
belum sampai waktunya, dan mengigau
parau melengking dari dasar kekosongan, tanpa nada
suara – suara rayuan yang menggoda malam
penuh asmara yang hampa; karena aku hilang
aku terkikis kenangan dan ingatan
tertunduk. sepi dan sendiri
menanti. menanti. menanti ….
sepanjang hiruk pikuk kegundahan
tak juga mereda, tak surut tersapu lengah
masih sisa air ini dalam secangkir cinta;
menyiksa dalam kemabukan
yang lalu inginkan berlalu laju
tinggalkan pergi,hilang titipkan ratapan
sedang angin membawaku bertepi
semakin menepi jiwa yang kalut terenggut
segalanya menahan. menahan. menahan sembilu
dan…
hingga sampai tiba nanti
aku ingin tetap seperti ini
Minggu, 13 Mei 2012
Resah Tentangmu, Disana
ada apakah kekasih?
sehingga sepi jerati berjubal lusuh jiwa
sedang kita telah terbentang jarak
antara mimpi dan terjaga, pun aku menahan
tak usai kugambar pucat membiru senduku
justru semakin teriakku, gejolak yang meresah
tak jelas, tak seperti adanya pagi meresapi senyum rerumputan;
mengembun
kekasih, silamku yang pudar …..
masihkah kan aku pantas jika?
pintaku pada restu langit, pada bintang
agar waktu masih memberiku kesempatan
untuk kembali menemuimu….
sekedar menanyakan tentangmu, kekasih
karena malam pekatku ini, aku khawatir padamu
sehingga sepi jerati berjubal lusuh jiwa
sedang kita telah terbentang jarak
antara mimpi dan terjaga, pun aku menahan
tak usai kugambar pucat membiru senduku
justru semakin teriakku, gejolak yang meresah
tak jelas, tak seperti adanya pagi meresapi senyum rerumputan;
mengembun
kekasih, silamku yang pudar …..
masihkah kan aku pantas jika?
pintaku pada restu langit, pada bintang
agar waktu masih memberiku kesempatan
untuk kembali menemuimu….
sekedar menanyakan tentangmu, kekasih
karena malam pekatku ini, aku khawatir padamu
Senin, 23 April 2012
Sajak Rindu
Pernahkah kau bayangkan
Rangkaian mimpi yang kupahat di temaram langit
Adalah wujud rinduku yang luruh dalam hening
Dan tenggelam dalam kerik jengkerik di beranda
Pernahkah kau bayangkan
Disetiap rentang waktu yang riuh
dimana kurekat erat binar matamu
Selalu kutitipkan harap disana
Dalam desau angin dan desir gerimis senja
Pernahkah kau bayangkan
Pada kelopak mawar disudut taman
Dan jernih embun yang menitik diatasnya
Kusimpan gigil gairahku yang membara padamu
Disetiap tarikan nafas
saat kulukis paras purnamamu di kanvas hatiku
Rangkaian mimpi yang kupahat di temaram langit
Adalah wujud rinduku yang luruh dalam hening
Dan tenggelam dalam kerik jengkerik di beranda
Pernahkah kau bayangkan
Disetiap rentang waktu yang riuh
dimana kurekat erat binar matamu
Selalu kutitipkan harap disana
Dalam desau angin dan desir gerimis senja
Pernahkah kau bayangkan
Pada kelopak mawar disudut taman
Dan jernih embun yang menitik diatasnya
Kusimpan gigil gairahku yang membara padamu
Disetiap tarikan nafas
saat kulukis paras purnamamu di kanvas hatiku
Langganan:
Komentar (Atom)